Nasoihul Ibad: Belajar Pengorbanan dan Orientasi Akhirat dari Sayidina Abu Bakar
19 September 2026
Musholla Al Karim kembali menggelar kajian rutin kitab Nasoihul Ibad bakda Isya, bersama Ustadz Ahmad Khafid Makinun Amin. Kajian ini menjadi salah satu majelis tetap yang menemani jamaah pada malam Kamis, dan kali ini materinya masuk pada pembahasan keutamaan Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Pelajaran Pertama: PengorbananDari kisah keutamaan beliau, jamaah diajak melihat bagaimana seorang sahabat menyerahkan harta, tenaga, dan kenyamanan hidupnya untuk membela agama Allah. Yang menarik, pengorbanan itu tidak dihitung sebagai kerugian, melainkan sebagai bukti kesungguhan iman. Bagi Abu Bakar, apa yang dimiliki di dunia bukanlah sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian, melainkan bekal yang bisa ditukar dengan sesuatu yang jauh lebih kekal.Pelajaran Kedua: Akhirat sebagai UkuranPelajaran berikutnya menyentuh cara beliau mengambil keputusan. Setiap pilihan hidupnya selalu dikembalikan pada pertimbangan akhirat serta keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Bukan apa yang paling menguntungkan, bukan pula apa yang paling disukai orang banyak, tetapi apa yang paling mendekatkan dirinya kepada ridha Allah.Cara berpikir seperti itu terdengar sederhana, namun justru itu yang paling sulit dipraktikkan hari ini. Kita sering mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang lebih dekat: keuntungan sesaat, penilaian orang, atau sekadar mengikuti kebiasaan. Padahal dari kajian itu terlihat jelas bahwa seorang yang benar-benar beriman punya timbangan lain timbangan yang tidak berubah walaupun keadaan berubah.Undangan Menghadiri MajelisKajian ini terbuka untuk siapa saja, dan jamaah diundang untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di Musholla Al Karim:Kajian Rutin Nasoihul Ibad setiap malam Kamis, bakda Isya.Kajian Kitab Riyadhus Solihin setiap Senin malam, bakda Isya.Dzikir Pagi pukul 05.00 WIB, dan Dzikir Petang pukul 15.00 WIB.Tadris Al-Qur’an (belajar membaca Al-Qur’an) pukul 17.30 WIB setiap Senin, Selasa, dan Rabu.Tidak perlu menunggu datang dengan ilmu yang banyak. Majelis ilmu justru tempat bagi siapa pun yang ingin belajar, dan kehadiran satu orang sering kali menjadi sebab hadirnya orang lain. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang senang memakmurkan majelis ilmu, dan mengaruniakan kita orientasi hidup sebagaimana yang dicontohkan oleh orang-orang terdahulu dari umat ini.