Lambang Al Karim Islamic Center Musholla Al Karim Pusat Pertumbuhan dan Kemajuan Ummat Berbasis Musholla
Beranda  ›  Berita  ›  Agenda Musholla Al Karim: Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 28 September 2026
Kajian

Agenda Musholla Al Karim: Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 28 September 2026

M Musholla Al Karim • 28 September 2026 • ± 4 menit baca
Agenda Musholla Al Karim: Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 28 September 2026

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Musholla Al Karim membahas hak setiap persendian untuk disedekahi yang bisa ditunaikan tanpa uang: tasbih, tahmid, takbir, tahlil, senyum, dan menyingkirkan gangguan di jalan.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Masih pada Bab Dorongan Memperbanyak Amal Kebaikan
  2. Berbuat Baik Tidak Harus dengan Harta
  3. Penutup Bab: Hadis tentang Cabang-Cabang Iman
  4. Jadwal Kajian Rutin Musholla Al Karim
  5. Mengapa Kajian Berjalan Bersambung

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin kembali berlangsung di Musholla Al Karim pada Senin malam, 28 September 2026, bakda Isya, bersama Ustadz Fahrizal, M.Pd.

Kajian ini termasuk kegiatan yang paling lama berjalan di musholla kita. Setiap Senin malam jamaah duduk melingkar, kitab dibuka, dan hadis-hadis dibaca bergantian — bukan untuk menambah bacaan, tetapi untuk memeriksa diri.

Masih pada Bab Dorongan Memperbanyak Amal Kebaikan

Malam itu pembahasan masih berjalan pada bab yang sama seperti pekan sebelumnya: dorongan untuk memperbanyak peluang kebaikan. Inti yang dibahas adalah hak setiap persendian tubuh manusia untuk disedekahi.

Yang membuat pelajaran ini terasa membebaskan adalah caranya. Sedekah untuk persendian kita itu tidak harus dengan uang. Banyak sekali jalan yang bisa ditempuh, dan hampir semuanya bisa dilakukan siapa saja:

  • bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil;
  • membantu orang yang sedang kesusahan;
  • tersenyum kepada saudara muslim;
  • menyingkirkan gangguan di jalan.

Dan sebagai batas paling minimal untuk memenuhi hak tubuh itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut sholat dua rakaat duha.

Berbuat Baik Tidak Harus dengan Harta

Di bagian inilah satu hadis membuat jamaah tersenyum sekaligus lega. Seorang sahabat yang miskin merasa minder ketika melihat sahabat-sahabat yang kaya mendapat lebih banyak pahala melalui kelebihan hartanya — sebab sedekah dengan harta tampak lebih besar dan lebih nyata.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu membesarkan hati mereka: kesempatan berbuat baik itu sama saja. Setiap tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil yang diucapkan juga bernilai sedekah. Menyingkirkan batu atau dahan yang menghalangi jalan juga sedekah. Tersenyum kepada saudara sendiri pun sedekah.

Kesimpulannya sederhana dan menenangkan: pintu kebaikan itu terbuka lebar bagi siapa saja. Yang kaya punya hartanya, yang tidak punya harta punya lisan, tenaga, dan wajah yang bisa ditampilkan dengan ramah.

Penutup Bab: Hadis tentang Cabang-Cabang Iman

Pembahasan bab itu ditutup dengan hadis kesembilan dalam kitab Shahih al-Bukhari, yang juga tercatat dalam Shahih Muslim:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

"Iman itu lebih dari enam puluh cabang, dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR al-Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Adapun perincian cabang yang paling tinggi dan yang paling rendah dijelaskan dalam riwayat lain:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ بَابًا، فَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَأَرْفَعُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

"Iman itu tujuh puluh sekian pintu; yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan yang paling tinggi adalah ucapan 'la ilaha illallah'." (HR at-Tirmidzi no. 2614, dinilai hasan sahih; juga diriwayatkan Abu Dawud no. 4676 dan dinilai sahih oleh al-Albani)

Perhatikan bagaimana hadis ini menyusun tangga iman. Di puncaknya ada satu kalimat tauhid yang diucapkan dengan penuh kesadaran. Di anak tangga paling bawah ada pekerjaan kecil: memindahkan sesuatu yang bisa membuat orang tersandung di jalan. Dan di antara keduanya, ada rasa malu — yang oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam disebut sebagai bagian dari iman itu sendiri.

Ada dua pelajaran yang kami catat dari sini. Pertama: iman bukan hanya keyakinan yang tersimpan di hati, melainkan punya cabang-cabang yang bisa dihitung dalam perbuatan sehari-hari — bahkan yang paling kecil sekalipun. Kedua: pekerjaan yang tampak remeh — memindahkan batu dari jalan, menampakkan wajah ramah — ternyata punya kedudukan dalam bangunan iman. Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dicatat.

Jadwal Kajian Rutin Musholla Al Karim

Bagi jamaah yang ingin mengikuti, ini jadwal rutin yang berjalan di Musholla Al Karim:

  • Kajian kitab Riyadhus Sholihin — Senin malam, bakda Isya
  • Kajian Nasoihul Ibad — Jumat malam, bakda Isya

Kedua kajian ini terbuka untuk siapa saja. Tidak ada syarat harus punya dasar bahasa Arab lebih dulu, dan tidak ada daftar hadir yang perlu diisi. Jamaah cukup datang, duduk, dan mendengarkan.

Mengapa Kajian Berjalan Bersambung

Ada satu hal menarik dari cara kajian ini berjalan. Ia tidak mengejar target dan tidak diadakan hanya pada bulan-bulan tertentu. Ia berjalan setiap pekan, sedikit demi sedikit.

Dan justru itulah kekuatannya — sama seperti isi bab yang dibahas malam itu: cabang iman yang paling rendah pun dihitung. Bab demi bab, hadis demi hadis, dari satu Senin ke Senin berikutnya. Jamaah yang tekun mengikutinya akan mendapati bahwa yang bertambah bukan hanya pengetahuannya, tetapi caranya memperlakukan orang di rumahnya.

Semoga Allah menjadikan majelis ini berkah bagi jamaah dan bagi lingkungan sekitar musholla.

Informasi lebih lanjut mengenai jadwal kegiatan dapat menghubungi pengurus Musholla Al Karim.

Bagikan:

Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.

Salurkan Infaq

Berita Lainnya