Lambang Al Karim Islamic Center Musholla Al Karim Pusat Pertumbuhan dan Kemajuan Ummat Berbasis Musholla
Beranda  ›  Berita  ›  Nasoihul Ibad: Ilmu Itu Ditempuh, Bukan Ditunggu
Kajian

Nasoihul Ibad: Ilmu Itu Ditempuh, Bukan Ditunggu

M Musholla Al Karim • 25 September 2026 • ± 6 menit baca
Nasoihul Ibad: Ilmu Itu Ditempuh, Bukan Ditunggu

Kajian rutin Nasoihul Ibad di Musholla Al Karim membahas keutamaan menuntut ilmu: ilmu ditempuh dengan perjuangan, penuntut ilmu dimudahkan jalannya ke surga, dan ulama adalah pewaris para nabi.

Isi tulisan (7 bagian)
  1. Ilmu Tidak Datang Sendiri; Ia Ditempuh
  2. Janji Allah bagi Penuntut Ilmu
  3. Derajat yang Diangkat Allah
  4. Penuntut Ilmu dan Penghapusan Dosa
  5. Mukmin Tidak Pernah Puas dengan Kebaikan
  6. Kematian Itu Pasti; Ilmu Adalah Pintu Masuknya
  7. Undangan Menghadiri Majelis

Musholla Al Karim kembali menggelar kajian rutin kitab Nasoihul Ibad pada Jumat malam, 25 September 2026, bakda Isya, bersama Ustadz Ahmad Khafid Makinun Amin. Tema yang dibahas malam itu bukan persoalan ringan: keutamaan menuntut ilmu.

Ilmu Tidak Datang Sendiri; Ia Ditempuh

Kajian dibuka dengan satu kalimat yang langsung mengubah cara kita memandang belajar:

مَنْ كَانَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَتِ الْجَنَّةُ فِي طَلَبِهِ

“Barangsiapa berada dalam menuntut ilmu, maka surga sedang mencarinya.”

Pesan yang ditarik dari ungkapan ini sangat tegas: ilmu itu ditempuh dengan perjuangan, bukan ditunggu. Ia tidak akan datang dengan sendirinya, tidak akan turun bersama waktu luang, dan tidak akan tumbuh hanya karena seseorang bertambah usia.

Untuk menegaskan hal itu, jamaah diajak mengingat para ulama besar: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Keduanya menempuh perjalanan jauh, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, menemui satu guru demi satu guru, hanya untuk memastikan satu hadis, memeriksa satu sanad. Andaikan mereka memilih duduk diam di kampungnya, tentu kita hari ini tidak akan pernah memegang warisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk yang begitu rapi dan terpelihara.

Jadi kelelahan menuju majelis ilmu bukan biaya yang hilang. Ia justru bagian dari ilmunya.

Janji Allah bagi Penuntut Ilmu

Dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, disebutkan hadis yang sangat dikenal:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Dan bila kita membaca lanjutan hadisnya, kita akan mendapati bahwa keutamaan penuntut ilmu jauh lebih luas daripada yang biasa kita bayangkan: malaikat saja meletakkan sayapnya karena ridha kepada orang yang menuntut ilmu; seluruh penghuni langit dan bumi — sampai ikan-ikan di dalam air — memohonkan ampunan baginya; dan keutamaan orang yang berilmu dibandingkan ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang.

Lalu puncaknya, disebutkan bahwa الْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ — “para ulama adalah pewaris para nabi”. Dan para nabi itu, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan hadis yang sama, tidak mewariskan dinar maupun dirham; mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang sangat besar.

Perhatikan: yang disebut pewaris di sini bukan mereka yang sekadar punya banyak buku atau cepat mengutip pendapat. Yang diwarisi adalah ilmu itu sendiri, beserta tanggung jawab yang menempel padanya.

Derajat yang Diangkat Allah

Keutamaan itu bukan hanya janji di akhirat. Allah menyebutkannya langsung dalam Al-Qur'an:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ayat ini berada dalam rangkaian pembicaraan tentang adab di majelis — tentang melapangkan tempat duduk bagi yang datang dan bersedia berdiri bila diminta. Jadi perhatikan urutannya: Allah menyebut adab lebih dulu, baru menyebut derajat orang berilmu. Seolah-olah Dia mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai kerendahan hati di majelis belum layak disebut ilmu yang mengangkat derajat.

Bandingkan pula dengan pertanyaan tegas Allah di surah Az-Zumar: قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ — “Katakanlah, adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Dan di surah Fathir disebutkan bahwa إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ — “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fathir: 28).

Artinya, ilmu agama adalah sumber kebaikan: ia bukan menambah beban, melainkan menuntun seseorang kepada adab, ketaatan, dan rasa takut yang benar kepada Allah.

Penuntut Ilmu dan Penghapusan Dosa

Salah satu hal yang disampaikan dalam kajian malam itu juga sangat melegakan bagi orang yang sedang berjalan menuntut ilmu: bahwa penuntut ilmu menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lalu. Sebab majelis ilmu adalah majelis dzikir dan kebaikan, dan seseorang yang duduk di dalamnya dalam keadaan salah dan khilaf kemudian memperoleh ampunan.

Dari sanalah kita mengenal doa penutup majelis, yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakhiri pertemuan dengan memohon ampun atas kekhilafan yang mungkin terjadi selama duduk:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala pujian bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu.”

Kalimat pendek ini dianjurkan dibaca setiap kali sebuah majelis ditutup — termasuk majelis ilmu. Ia mengingatkan bahwa pertemuan kita tidak pernah sempurna, dan bahwa yang menyempurnakannya bukan pembicaraan kita, melainkan ampunan Allah.

Mukmin Tidak Pernah Puas dengan Kebaikan

Pelajaran berikutnya yang diangkat dalam kajian membentuk sikap: orang mukmin tidak pernah merasa puas dengan kebaikan yang sudah dikerjakan. Ia terus bergerak menuju kebaikan berikutnya, tidak berhenti, dan tidak merasa cukup dengan pencapaian kemarin.

Karena itulah Allah mengajarkan doa yang singkat tetapi menembus batas: وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا — “Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'” (QS. Thaha: 114). Permintaan tambahan ilmu tidak pernah berhenti, karena yang diminta bukan gelar, bukan ijazah, dan bukan pengakuan orang lain, melainkan tambahan ilmu itu sendiri.

Dan hal ini sejalan dengan ciri orang yang mulia: ia tidak bermaksiat kepada Allah. Sebab kemuliaan tidak pernah lahir dari larangan yang diterjang, melainkan dari ketaatan yang dijaga. Tidak ada kebaikan di dalam kemaksiatan; dan tidak ada ilmu yang bermanfaat bila ia tidak menahan pemiliknya dari perbuatan yang dilarang Allah.

Kematian Itu Pasti; Ilmu Adalah Pintu Masuknya

Kajian malam itu ditutup dengan satu perenungan yang sederhana, tetapi tidak bisa dibantah:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)

Kalau kita sudah yakin bahwa kematian itu pasti datang — dan tidak ada seorang pun yang bisa menawar waktunya — maka pertanyaan yang tersisa hanya satu: apa lagi yang akan kita kerjakan sebelum kematian itu benar-benar sampai kepada kita, kecuali bersiap dengan amal saleh?

Dan di situlah kedudukan ilmu menjadi jelas: ilmu adalah pintu masuknya. Tidak mungkin seseorang menyiapkan amal saleh dengan benar tanpa mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang; tidak mungkin ia memperbaiki sholatnya tanpa belajar, tidak mungkin ia berlaku adil kepada keluarganya tanpa paham, dan tidak mungkin ia menghadapi kematian dengan tenang tanpa mengenal Tuhannya.

Maka menuntut ilmu bukan kesibukan tambahan bagi orang yang punya waktu luang. Ia adalah cara seorang mukmin menyiapkan bekalnya — sebab amal tanpa ilmu mudah tersesat, sementara ilmu tanpa amal hanya menjadi hujah atas diri kita sendiri.

Undangan Menghadiri Majelis

Kajian ini terbuka untuk seluruh jamaah, dan jamaah diundang memakmurkan majelis-majelis ilmu di Musholla Al Karim:

  • Kajian Kitab Nasoihul Ibad — setiap Jumat malam, bakda Isya, bersama Ustadz Ahmad Khafid Makinun Amin.
  • Kajian Kitab Riyadhus Sholihin — setiap Senin malam, bakda Isya, bersama Ustadz Fahrizal, M.Pd.
  • Dzikir pagi pukul 05.00 WIB dan dzikir petang pukul 15.00 WIB.
  • Tilawah satu juz setiap Sabtu dan Ahad bakda Subuh, bersama anak-anak.

Kalau ilmu memang harus ditempuh, maka langkah pertama yang paling ringan adalah memutuskan untuk hadir. Tidak perlu menunggu siap, tidak perlu menunggu waktu lapang — sebab para ulama pun sampai ke tempatnya bukan karena siap, tetapi karena berjalan.

Semoga Allah memudahkan jalan kita menuju majelis ilmu, dan menjadikan ilmu yang kita pelajari bermanfaat serta menuntun kita kepada-Nya. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Bagikan:

Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.

Salurkan Infaq

Berita Lainnya