Cahaya di Antara Dua Jumat: Keutamaan Surah Al-Kahfi dan Amal Saleh di Hari Jumat
Hari Jumat adalah hari yang paling utama, dan di dalamnya ada amalan yang ringan tetapi pahalanya menjaga: membaca surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat, berdoa di waktu mustajab, dan memperbanyak amal saleh.
Isi tulisan (7 bagian)
Di antara sekian banyak hari, ada satu hari yang Allah muliakan di atas hari-hari lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ قُبِضَ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ
“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia diwafatkan, pada hari itu sangkakala ditiup, dan pada hari itu terjadi kiamat. Maka perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, sebab shalawat kalian diperlihatkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud, dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani)
Bersegera, Lalu Bertebaran
Allah menyebut hari ini dengan namanya sendiri dalam Al-Qur'an, dan memberi dua perintah yang berurutan di dalamnya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوٓا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ ٱلْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu'ah: 9)
Lalu ayat berikutnya:
فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَاةُ فَٱنتَشِرُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَٱبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah: 10)
Perhatikan urutannya: bersegera ketika dipanggil, lalu bertebaran mencari karunia Allah setelahnya — tanpa melepas dzikir. Artinya, kemuliaan hari Jumat bukan hanya soal apa yang kita kerjakan di dalam masjid, tetapi juga bagaimana kita menjalani sisa harinya.
Mengapa Surah Al-Kahfi pada Hari Jumat?
Di antara amalan yang paling dikenal pada hari ini adalah membaca surah Al-Kahfi. Dasarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
“Sesungguhnya siapa yang membaca surah Al-Kahfi pada hari Jumat, akan dipancarkan cahaya baginya di antara dua Jumat.” (HR. al-Hakim no. 3392 dan al-Baihaqi no. 5996; dinilai hasan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Takhrij al-Adzkar, dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami')
Adapun riwayat tentang malam Jumat — مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ (“siapa membacanya pada malam Jumat, akan diterangi cahaya antara dia dan Ka'bah”, HR. ad-Darimi no. 3450) — perlu disebutkan dengan jujur: riwayat ini mauquf, yakni ucapan Abu Sa'id sendiri, bukan sabda Nabi. Dan waktu yang dianjurkan membacanya pun lapang: sejak terbenam matahari pada hari Kamis (yakni malam Jumat) sampai terbenamnya matahari pada hari Jumat.
Yang derajatnya paling tegas di antara semua riwayat tentang surah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama surah Al-Kahfi, ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
Isi Al-Kahfi: Empat Fitnah yang Sedang Kita Jalani
Mengapa surah ini yang dibaca berulang setiap pekan? Karena isinya adalah empat kisah besar, dan masing-masing menghadapi satu fitnah yang mengelilingi hidup kita:
- Fitnah agama — kisah para pemuda penghuni gua, yang mempertahankan iman ketika seluruh negeri menolaknya.
- Fitnah harta — kisah pemilik dua kebun, yang harta dan kebunnya melenakan sampai ia lupa kepada Yang Memberi.
- Fitnah ilmu — kisah Musa dan Khidir, bahwa ada ilmu di luar jangkauan kita dan sikap yang benar adalah tunduk, bukan membantah.
- Fitnah kekuasaan — kisah Dzulqarnain, bahwa jabatan dan kekuatan menuntut keadilan, bukan penindasan.
Dan di tengah kisah-kisah itu, Allah menempatkan satu ayat yang menjadi timbangan: ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَاقِيَاتُ ٱلصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا — “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)
Jadi membaca surah ini setiap Jumat bukan sekadar rutinitas berpahala; ia adalah pengingat mingguan bahwa empat fitnah itu nyata, dan bahwa setiap kali kita membacanya, kita sedang dilatih untuk mengenalinya.
Amal Saleh: Berbuat Baik dengan Dua Syarat
Istilah amal saleh sering kita ucapkan, tetapi surah yang sama juga yang menjelaskan syaratnya. Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalannya dengan baik.” (QS. Al-Kahfi: 30)
Lalu apa ukurannya? Ayat terakhir surah ini menegaskan: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا — “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Dari ayat itu jelas: amal saleh bukan sekadar perbuatan baik yang tampak bagus, tetapi dikerjakan dengan ikhlas dan tidak dicampuri kesyirikan. Dan balasannya disebut dengan tegas di surah yang sama: إِنَّ ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ ٱلْفِرْدَوْسِ نُزُلًا — “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga Firdaus menjadi tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Bahkan lebih tinggi dari itu, Allah menyebut kedudukan mereka di surah lain: إِنَّ ٱلَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّالِحَاتِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ — “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itulah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7)
Amalan Sederhana yang Bisa Dikerjakan Siapa Saja pada Hari Jumat
Tidak perlu menunggu menjadi orang alim untuk mengisi hari Jumat. Di antara amalan yang disunnahkan:
- Mandi, bersiwak, memakai wangi-wangian, dan berangkat lebih awal ke masjid (HR. Bukhari).
- Memperbanyak shalawat, sebagaimana hadis Aus bin Aus di awal tulisan ini — dan hari Jumat adalah waktu yang paling ditekankan untuk itu.
- Berdoa pada waktu yang mustajab, sebab di hari Jumat ada saat yang tidaklah seorang hamba Muslim memohon kepada Allah pada saat itu melainkan dikabulkan. Pendapat yang masyhur menyebutkan waktunya antara Ashar dan Maghrib.
- Membaca surah Al-Kahfi, dengan niat memperbaiki diri dan menghafalnya secara bertahap.
- Bersedekah, sebab hari Jumat adalah hari yang mulia.
Satu Catatan yang Perlu Kita Jujurkan
Supaya amal kita berdiri di atas dalil yang benar, ada tiga hal yang perlu disebutkan apa adanya:
- Riwayat tentang keutamaan surah Al-Kahfi jumlahnya banyak, tetapi tidak semuanya sahih; sebagian lemah, bahkan ada yang tidak layak dinisbatkan kepada Nabi. Yang paling kuat adalah riwayat Abu Sa'id al-Khudri yang kita sebut di atas.
- Riwayat "malam Jumat" itu mauquf — ucapan sahabat, bukan sabda Nabi. Tetap boleh diamalkan, tetapi jangan disebut sebagai sabda Rasulullah.
- Soal sedekah pada hari Jumat, tidak ditemukan hadis khusus yang sahih tentangnya. Yang ada adalah keterangan ulama, di antaranya Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad, bahwa sedekah pada hari Jumat lebih mulia dibanding hari-hari lain. Jadi kita mengamalkannya sebagai keutamaan hari, bukan sebagai sabda Nabi yang khusus.
Justru dengan membedakan mana yang sahih dan mana yang tidak, kita menjaga kemuliaan hari ini — sebab agama ini dibangun di atas riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penutup
Cahaya di antara dua Jumat itu bukan sesuatu yang kita bayar mahal. Ia datang dari bacaan yang kita ulang setiap pekan, dari shalawat yang kita ucapkan berulang, dari doa yang kita panjatkan pada saat yang tepat, dan dari amal saleh yang kita kerjakan dengan ikhlas.
Jangan tunggu sampai hari Jumat berikutnya untuk memulai. Mari jadikan Jumat sebagai titik hitung mingguan atas diri kita sendiri: apa yang sudah kita perbaiki, dan apa yang masih perlu kita betulkan.
Semoga Allah menerima amal kita, menjadikan hari Jumat kita bercahaya, dan mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan beramal saleh. Wallahu a'lam bish-shawab.
Jamaah diundang memakmurkan majelis ilmu di Musholla Al Karim: Kajian Kitab Riyadhus Sholihin setiap Senin malam bakda Isya, Kajian Kitab Nasoihul Ibad setiap Jumat malam bakda Isya, dzikir pagi pukul 05.00 WIB dan dzikir petang pukul 15.00 WIB, serta tilawah satu juz setiap Sabtu dan Ahad bakda Subuh.
Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.
Salurkan Infaq