Kajian Nasoihul Ibad, 16 Oktober 2026: Dosa Syahwat dan Dosa Kesombongan
Maqolah ke-9 dari Sufyan as-Tsaury: maksiat yang lahir dari syahwat masih berharap ampun; yang lahir dari kesombongan tidak sebab maksiat iblis pun berakar di sana.
Isi tulisan (3 bagian)
Kajian rutin kitab Nasoihul Ibad di Musholla Al Karim berlanjut pada Jumat malam bakda Isya, 16 Oktober 2026, yang diisi oleh Ustadz Fahrizal, M.Pd. Pembahasan malam itu sampai pada maqolah kesembilan, sebuah qaul yang dinukil dari Sufyan as-Tsaury rahimahullah, ulama besar Kufah:
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ شَهْوَةٍ فَإِنَّهُ يُرْجَى غُفْرَانُهَا، وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ كِبْرٍ فَلَا يُرْجَى غُفْرَانُهَا، لِأَنَّ مَعْصِيَةَ إِبْلِيسَ عَنْ كِبْرٍ
"Setiap maksiat yang berasal dari syahwat, maka masih ada harapan untuk mendapatkan ampunan Allah. Dan setiap maksiat yang berasal dari kesombongan, maka tidak ada harapan untuk diampuni — karena maksiatnya iblis pun berasal dari kesombongan."
Qaul ini bukan ayat dan bukan hadis, melainkan perkataan ulama yang dicatat Imam Nawawi dalam glosarium kitab ini. Tetapi bobotnya berat, dan ia membedakan dua dosa yang sering kita samakan.
Dosa yang Lahir dari Syahwat
Orang yang jatuh ke maksiat karena syahwat — tergiur, terdorong hawa nafsu, lalu tergelincir — masih membawa satu pintu harapan: ia tahu dirinya salah. Pipinya merah di hadapan Allah, dan rasa malu itulah yang biasanya membawanya kembali. Taubatnya tinggal menunggu kesungguhan.
Contoh terbesarnya ada di kisah ayah kita, Adam alaihissalam. Ketika keduanya tergelincir memakan buah yang dilarang, yang keluar dari mulut mereka bukan pembelaan diri:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ
"Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS 7 ayat 23)
Tidak ada alasan yang dibanggakan. Hanya pengakuan: kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan di situlah ampunan Allah menyambutnya.
Dosa yang Lahir dari Kesombongan
Berbeda dengan iblis. Ia juga durhaka — menolak sujud. Tetapi lihat jawabannya ketika ditanya:
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ
"Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"." (QS 7 ayat 12)
Bukan "saya khilaf", bukan "saya tergiur". Jawabannya: saya lebih baik daripadanya. Maksiatnya berasal dari merasa diri lebih tinggi — dan dari dosa itulah ia menolak bertobat, justru meminta diperpanjang umurnya sampai hari kebangkitan:
قَالَ أَنظِرْنِىٓ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"Iblis menjawab, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan"." (QS 7 ayat 14)
Padahal kita mengetahui akhirnya: dilaknat dan dijauhkan sampai hari kiamat. Karena itu qaul di atas menegaskan — maksiat yang berakar pada kesombongan itulah yang tidak diberi harapan, sebab contoh paling nyata dari dosa tersebut tidak pernah bertobat sampai hari ini.
Di Mana Kita Berdiri
Pelajaran untuk kita bukan menimbang dosa orang lain, melainkan memeriksa akar dosa sendiri. Ketika kita tergelincir, ada satu pertanyaan yang menentukan: apakah ini jatuh karena syahwat, ataukah karena merasa lebih?
Kalau karena syahwat — bergegaslah bertobat, sebab pintunya masih terbuka. Tetapi kalau hati ini sedang menyimpan rasa lebih — lebih pintar, lebih saleh, lebih terhormat — waspadalah, sebab itulah akar yang harus dicabut sebelum menumbuhkan dosa yang tidak mengenal taubat.
Semoga Allah menjaga kita dari kesombongan, dan menjadikan setiap kesalahan kita diikuti pengakuan yang tulus — seperti pengakuan Adam — bukan pembelaan seperti iblis. Jazakumullahu khairan.
Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.
Salurkan Infaq