Modal Hidup: Antara Taqwa dan Dunia
Setiap orang berjalan membawa modal, dan yang menentukan hasil akhir bukan besar kecilnya modal melainkan apa yang kita jadikan modal: taqwa atau dunia.
Isi tulisan (5 bagian)
Setiap orang berjalan membawa modal. Ada yang memakai tenaga, ada yang memakai waktu, ada yang memakai harta dan kepandaian. Tetapi pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri bukanlah berapa besar modal kita, melainkan apa yang kita jadikan modal itu.
Dalam kajian di Musholla Al Karim, pembahasan ini dibuka dengan perkataan yang bukan ayat dan bukan hadis, melainkan hikmah yang dinukil dari Sulaiman bin Mihran al-A’masy, seorang ulama besar Kufah yang wafat pada tahun 148 Hijriah. Beliau berkata:
مَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ التَّقْوَى كَلَّتِ الْأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ رِبْحِ دِينِهِ، وَمَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ الدُّنْيَا كَلَّتِ الْأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ خُسْرَانِ دِينِهِ
"Barangsiapa yang modalnya adalah taqwa, akan kelu lidah-lidah untuk melukiskan keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang modalnya adalah dunia, akan kelu pula lidah-lidah untuk melukiskan kerugian agamanya."
Dua baris itu menyimpan satu kenyataan yang tegas: ada dua macam modal, dan keduanya berjalan ke arah yang berlawanan. Yang membedakannya bukan jumlah, bukan kepandaian, dan bukan pula kesempatan yang Allah berikan — sebab kesempatan diberikan kepada kedua-duanya. Yang membedakan hanya satu: apa yang kita letakkan sebagai modal utama.
Dua Modal, Dua Arah yang Berbeda
Al-Qur’an menggambarkannya dengan sangat jelas. Allah berfirman:
مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصْلَىٰهَا مَذْمُومًا مَّدْحُورًا
"Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahanam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir." (QS 17:18)
Lalu dibandingkan dengan mereka yang memilih arah yang lain:
وَمَنْ أَرَادَ ٱلْـَٔاخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ سَعْيُهُم مَّشْكُورًا
"Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS 17:19)
Perhatikan bahwa jalan akhirat pun tetap menuntut usaha. Ayat itu tidak menyebut “yang berangan-angan tentang akhirat”, melainkan yang menginginkan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh — dan itu pun disyaratkan dikerjakan dalam keadaan beriman. Jadi bukan berarti dunia ditinggalkan tanpa bekerja. Yang berubah bukan besar kecilnya usaha kita, melainkan untuk siapa usaha itu kita persembahkan.
Allah Tidak Menahan Dunia dari Siapa Pun
Di sini ada satu hal yang kadang kita salah pahami. Kita sering menyangka bahwa orang yang sibuk mengejar dunia mendapat bagiannya lalu orang beriman dibiarkan tanpa apa-apa. Al-Qur’an menepis dugaan itu:
كُلًّا نُّمِدُّ هَـٰٓؤُلَآءِ وَهَـٰٓؤُلَآءِ مِنْ عَطَآءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
"Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu . Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhan-mu. Dan kemurahan Tuhan-mu tidak dapat dihalangi." (QS 17:20)
Bahkan tentang orang yang hanya menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, Allah berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَـٰلَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan." (QS 11:15)
Mereka tidak dirugikan di dunia. Mereka tetap dapat pekerjaan, tetap dapat penghasilan, tetap dapat kenikmatan yang menjadi bagiannya di sana. Persoalannya bukan bahwa Allah menahan dunia dari orang yang taat, dan bukan pula bahwa Allah bermurah hati kepada yang lalai. Persoalannya adalah pilihan modal, dan pilihan itu menentukan apa yang tersimpan untuk kita di tempat yang kekal. Lanjutan ayatnya menutup perkaranya dengan keras:
أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا۟ فِيهَا وَبَـٰطِلٌ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ." (QS 11:16)
Ayat itu bukan berarti setiap orang yang bekerja mencari rezeki akan kehilangan akhiratnya. Yang dibicarakan adalah mereka yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya — yang modalnya dunia, bukan yang bekerja di dunia sambil menjadikan akhirat sebagai tujuan.
Hitungan Untung yang Sesungguhnya
Kemudian pembahasan beralih kepada timbangan. Bagaimana sebenarnya cara menghitung untung dan rugi:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْـَٔاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦ ۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
"Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." (QS 42:20)
Kaidah itu berlaku adil dua arah: siapa yang menaruh harapan pada keuntungan akhirat, keuntungannya justru ditambah oleh Allah — dan penambahan itu tidak diberikan kepada orang yang mengejar keuntungan dunia. Sebab keuntungan dunia ada batasnya, sementara keuntungan akhirat tidak.
Kemudian dunia diperlihatkan hakikatnya melalui satu perumpamaan yang sederhana:
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَـٰحُ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا
"Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 18:45)
Seperti air hujan yang menjadikan tanah menghijau sebulan-dua bulan, lalu tumbuhannya mengering dan diterbangkan angin. Bukan dusta, bukan pula tidak berharga — hanya cepat sekali berlalu. Setelah itu ayat berikutnya menempatkan keduanya pada posisinya masing-masing:
ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhan-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (QS 18:46)
Harta dan anak disebut sebagai perhiasan — dan perhiasan itu tidak dilarang, bahkan disebutkan tanpa cela. Tetapi ia bukan bekal; ia hiasan. Bekalnya adalah amal yang kekal lagi saleh, yang nilainya di sisi Allah lebih baik pahalanya sekaligus lebih baik untuk dijadikan harapan.
Dan di akhir pembahasan, Al-Qur’an menunjukkan kebiasaan kita yang paling sering tidak kita sadari:
بَلْ تُؤْثِرُونَ ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا
"Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi." (QS 87:16)
وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ
"Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal." (QS 87:17)
Bukan karena kita membenci akhirat, tetapi karena kita mendahulukan yang ada di depan mata. Ayat itu menyebutnya sebagai memilih (تؤثرون) — dan pilihan selalu bisa dibalik, selama umur masih ada.
Apa yang Perlu Kita Ubah
Pertama, periksa ukuran untung kita. Kalau ukuran untung kita hanya gaji, jabatan, dan pujian orang, maka modal kita sedang berjalan ke arah yang salah sejak awal. Ukuran itu tidak salah untuk dipakai di dunia — tetapi tidak boleh menjadi ukuran yang terakhir.
Kedua, jangan menunda bekal hanya karena sibuk bekerja. Ayat-ayat di atas tidak memerintahkan kita berhenti bekerja; yang diperintahkan adalah tidak menjadikan pekerjaan sebagai tujuan akhir. Sebab apa yang kita tandam hari ini akan kekal, sedangkan seluruh apa yang kita kejar di dunia akan diterbangkan angin.
Ketiga, tanyakan kepada diri sendiri pertanyaan yang sederhana: kalau rukun, harta, dan kesempatan hari ini diambil dari saya, apa yang masih tersisa? Jawaban atas pertanyaan itu adalah modal kita sesungguhnya — dan semoga jawabannya adalah taqwa.
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang menaruh modal pada tempat yang tidak akan diterbangkan angin, dan menjadikan sisa umur kita berisi amal yang kekal lagi saleh. Semoga pula Allah mengeluarkan lidah kita untuk menuturkan syukur atas keuntungan agama yang tidak sanggup dilukiskan.
Kajian di Musholla Al Karim terbuka untuk siapa pun yang ingin ikut duduk dan belajar bersama. Jazakumullahu khairan.
Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.
Salurkan Infaq