Lambang Al Karim Islamic Center Musholla Al Karim Pusat Pertumbuhan dan Kemajuan Ummat Berbasis Musholla
Beranda  ›  Berita  ›  Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 12 Oktober 2026: Jalan-Jalan Kebaikan yang Masih Terbuka
Kajian

Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 12 Oktober 2026: Jalan-Jalan Kebaikan yang Masih Terbuka

M Musholla Al Karim • 12 Oktober 2026 • ± 4 menit baca
Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 12 Oktober 2026: Jalan-Jalan Kebaikan yang Masih Terbuka

Lanjutan bab banyaknya jalan kebaikan: setiap langkah ke masjid menghapus satu langkah dan mengangkat yang lain, shalat menjadi penghapus, pohon menjadi saksi, dan seekor kambing yang susunya dipinjamkan bisa membuka pintu surga.

Isi tulisan (5 bagian)
  1. Satu: Setiap Langkah ke Masjid
  2. Dua: Kaffarat yang Berjalan Terus
  3. Tiga: Pohon yang Menjadi Saksi
  4. Empat: Manihah — Kambing yang Mengantarkan ke Surga
  5. Penutup: Tinggal Kita Mau Menjalaninya atau Tidak

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Musholla Al Karim kembali berlanjut pada Senin malam bakda Isya, 12 Oktober 2026, yang diisi oleh Ustadz Fahrizal, M.Pd. Pembahasan masih berada di bab yang sama, yaitu bab tentang katsratu thuruqil khair — banyaknya jalan menuju kebaikan. Hanya saja, pertemuan ini bukan pengulangan: ada jalan-jalan baru yang dibuka, dan semuanya bisa dikerjakan orang yang tidak punya kelebihan harta sekalipun.

Satu: Setiap Langkah ke Masjid

Jalan pertama yang dibahas adalah yang paling sering kita lakukan, dan justru paling sering kita anggap biasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خُطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

"Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan salah satu kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah, maka kedua langkahnya: yang satu menghapus kesalahan, dan yang satu mengangkat derajat." (HR Muslim no. 666, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Perhatikan bahwa yang dihitung bukan hanya shalatnya, melainkan perjalanannya. Setiap langkah — yang kita ayunkan sambil memikirkan pekerjaan yang belum selesai, atau sambil menahan kantuk — tercatat. Satu langkah menghapus, satu langkah mengangkat. Jarak dari rumah ke musholla yang terasa jauh itu ternyata bukan beban; itu tabungan.

Dua: Kaffarat yang Berjalan Terus

Jalan kedua adalah pembersih yang bekerja sepanjang tahun, selama kita masih mengerjakannya:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

"Shalat lima waktu, Jumat kepada Jumat, dan Ramadhan kepada Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara waktu-waktunya, apabila dosa-dosa besar dijauhi." (HR Muslim no. 233; juga tercatat dalam Riyadhus Sholihin no. 130, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Ada pelajaran menarik di syarat terakhir ayat hadis ini: apabila dosa besar dijauhi. Sebagian orang menyangka syarat itu berarti pintunya tertutup bagi kita. Padahal sebaliknya — syarat itu justru menunjukkan betapa besar kemurahan Allah kepada hal-hal kecil. Shalat yang kita kerjakan dengan kurang khusyuk, Jumat yang kita hadiri dengan pikiran bercabang, Ramadhan yang terasa biasa saja — semuanya tetap menghapus, selama kita tidak bermain-main dengan batas-batas besar yang Allah tetapkan.

Tiga: Pohon yang Menjadi Saksi

Jalan yang ketiga membuat saya berhenti sejenak: amal yang tetap bekerja bahkan ketika kita sudah tidak mengerjakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

"Tidak ada seorang muslim yang menanam pohon atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya." (HR al-Bukhari no. 2320, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Bayangkan cara kerja sedekah jenis ini. Kita menanam sekali, dan pohon itu terus menjadi catatan kebaikan selama puluhan tahun — setiap kali seekor burung hinggap di dahannya, setiap kali seorang anak memetik buahnya, setiap kali hewan berlindung di bawah naungannya. Kita tidak perlu menyaksikannya, tidak perlu tahu, dan bahkan tidak perlu masih hidup.

Dan yang menanam tidak harus orang kaya. Satu biji, satu pot, satu batang kecil di pekarangan — itu sudah cukup untuk memulai jejak amal yang mengalir.

Empat: Manihah — Kambing yang Mengantarkan ke Surga

Jalan keempat yang dibahas malam itu adalah hadis yang paling mengejutkan bagi banyak jamaah, karena menyebut amal yang sangat sederhana sebagai puncak dari empat puluh amal:

أَرْبَعُونَ خَصْلَةً، أَعْلَاهُنَّ مَنِيحَةُ الْعَنْزِ، مَا مِنْ عَامِلٍ يَعْمَلُ بِخَصْلَةٍ مِنْهَا رَجَاءَ ثَوَابِهَا وَتَصْدِيقَ مَوْعُودِهَا، إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ بِهَا الْجَنَّةَ

"Empat puluh perkara, dan yang paling tinggi di antaranya adalah manihah — memberi kambing untuk dimanfaatkan susunya. Tidak ada seorang hamba yang mengerjakan satu perkara dari padanya, dengan mengharap pahalanya dan membenarkan janjinya, kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga karena amal itu." (HR al-Bukhari, kitab al-Hibah, bab Fadhlu al-Manihah, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Apa itu manihah? Ia adalah memberi ternak — kambing, sapi, atau unta yang sedang berisi susu — kepada orang lain untuk dimanfaatkan susunya, lalu ternaknya dikembalikan kepadanya. Jadi bukan dihibahkan habis, bukan juga disewakan. Sekadar dipinjamkan manfaatnya, tanpa upah.

Perhatikan: yang disebut sebagai amal paling tinggi dari empat puluh perkara bukan sedekah harta yang besar, dan bukan amal yang mengubah peta dunia. Yang disebut justru amal paling sederhana yang bisa dilakukan siapa saja yang memiliki seekor ternak: meminjamkan manfaatnya kepada yang membutuhkan.

Penutup: Tinggal Kita Mau Menjalaninya atau Tidak

Maka malam itu, satu hal yang paling sering diulang dalam pembahasan ini menjadi semakin jelas: tidak ada kekurangan jalan menuju kebaikan. Langkah ke masjid sudah dihitung, shalat sudah menjadi penghapus, pohon sudah menjadi saksi, dan bahkan seekor kambing yang susunya dipinjamkan sudah cukup untuk membuka pintu surga.

Yang menjadi persoalan bukan apakah jalannya tersedia, sebab jalan-jalannya bahkan berlimpah sampai pada perkara-perkara yang paling kecil. Yang menjadi persoalan hanya satu: apakah kita berjalan di atasnya atau tidak. Sebab jalan mana pun, seandainya sepanjang itu, tidak akan membawa kita ke mana-mana kalau kita tidak mau mengangkat kaki.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak malas menempuh jalan-jalan kebaikan yang sudah dibentangkan seluas ini, dan semoga amal kita berlanjut manfaatnya bahkan setelah kita tidak lagi ada di antara manusia. Jazakumullahu khairan.

Bagikan:

Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.

Salurkan Infaq

Berita Lainnya