Kajian Riyadhus Sholihin, Senin 5 Oktober 2026: Dorongan Memperbanyak Jalan Kebaikan
Allah sangat ingin kita masuk surga: niat baik sudah dicatat sebelum dikerjakan, senyum pun berpahala, dan tidak ada alasan untuk tidak bisa masuk surga kecuali kita sendiri yang enggan.
Isi tulisan (4 bagian)
Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin di Musholla Al Karim kembali berlanjut. Pada pertemuan Senin malam bakda Isya, 5 Oktober 2026, yang diisi oleh Ustadz Fahrizal, M.Pd., pembahasan masih berada di bab tentang dorongan untuk memperbanyak jalan kebaikan. Dan ada satu kesimpulan yang rasanya perlu kita renungkan bersama: betapa Allah itu sangat ingin kita masuk surga.
Kalau kita perhatikan bab demi bab dalam kitab ini, keinginan itu bukan hal yang tersembunyi. Ia justru terbuka lebar, berulang-ulang, dan disampaikan dengan cara yang paling melegakan.
Niat Baik Sudah Dicatat, Bahkan Sebelum Dikerjakan
Ingat kembali bab awal kitab ini, yaitu bab tentang niat. Di sana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar dari Allah yang kalau kita renungkan baik-baik, isinya menyejukkan:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
"Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan, kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat sebuah kebaikan lalu tidak mengerjakannya, Allah mencatatnya satu kebaikan yang sempurna. Kalau ia berniat lalu mengerjakannya, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat, sampai berlipat-lipat yang banyak. Dan barangsiapa berniat sebuah keburukan lalu tidak mengerjakannya, Allah mencatatnya satu kebaikan yang sempurna. Kalau ia berniat lalu mengerjakannya, Allah mencatatnya satu keburukan." (HR al-Bukhari no. 6491, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Perhatikan perbandingannya. Niat baik yang belum sempat dikerjakan sudah ditulis sebagai satu kebaikan yang sempurna. Yang dikerjakan diberi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Sedangkan niat buruk yang tidak jadi dikerjakan justru berubah menjadi satu kebaikan, dan kalau dikerjakan hanya dihitung satu dosa.
Timbangan seperti ini tidak mungkin dibuat oleh seseorang yang tidak ingin hamba-Nya selamat. Justru Allah memberi kita jalan agar pahala kita lebih banyak daripada dosa kita, dan membiarkan pintu kebaikan terbuka seluas-luasnya, bahkan lewat sesuatu yang hanya niat.
Tidak Ada Satu Hari Pun yang Kosong dari Peluang Pahala
Pada bab ini, keterbukaan itu semakin jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa dalam setiap dua puluh empat jam, sebenarnya kita bisa memastikan diri kita mengerjakan amalan-amalan yang mengantarkan kita ke surga. Sebab sejak pagi, sedekah sudah dituntut dari kita:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
"Setiap persendian manusia ada kewajiban sedekahnya setiap hari di mana matahari terbit: mendamaikan dua orang yang berselisih adalah sedekah, membantu seseorang menaikkan barangnya ke atas tunggangannya adalah sedekah, kalimat yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR Muslim no. 1009, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Perhatikan, yang diminta bukan uang. Mendamaikan orang, membantu orang membawa barang, bicara baik, dan melangkah ke masjid — semuanya bisa dikerjakan orang yang tidak punya apa-apa.
Bahkan yang sering kita anggap sepele pun tercatat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
"Senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR at-Tirmidzi no. 1956, dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu — derajat hadis: hasan)
Dan bukan hanya kepada manusia. Ada seorang lelaki yang sedang berjalan lalu kehausan, ia turun ke sumur dan minum. Ketika keluar, ia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat tanah karena kehausan. Ia berkata, "Anjing ini kehausan seperti yang baru kualami." Maka ia mengisi sepatunya dengan air, menggigitnya, lalu naik dan memberi minum anjing itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami juga mendapat pahala pada hewan?" Beliau menjawab:
فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ
"Pada setiap hati yang basah ada pahala." (HR al-Bukhari no. 2363, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Hati yang basah maksudnya makhluk hidup yang bernyawa. Jadi memberi makan hewan peliharaan di rumah, memberi minum kucing yang menunggu di depan pintu — itu bukan sekadar kebiasaan baik, melainkan pahala yang dicatat.
"Setiap Umatku Masuk Surga, Kecuali yang Enggan"
Kalau begitu banyaknya pintu kebaikan yang Allah buka, sampai-sampai pembicaraan tentang surga pun disampaikan dengan nada yang menggugah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ، إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
"Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?" Beliau menjawab, "Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa durhaka kepadaku, maka ia sungguh telah enggan." (HR al-Bukhari no. 7280, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Di sini kita dihadapkan pada kenyataan yang sebenarnya tidak nyaman, tapi menyejukkan: sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa masuk surga, kecuali kita sendiri yang tidak mau berjalan ke arah sana. Yang menjadi penghalang bukan harta yang sedikit, bukan ilmu yang rendah, dan bukan amal yang kecil. Penghalangnya hanya satu: kita enggan menempuh jalannya.
Dan jalannya sudah dibentangkan sedemikian murah. Niat saja sudah dicatat. Senyum saja sudah berpahala. Langkah ke masjid sudah dihitung. Menyingkirkan batu dan duri dari jalan pun merupakan sedekah.
Penutup
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tidak enggan untuk berjalan kepada-Nya, dan menjadikan hari-hari kita tidak lewat tanpa satu pun kebaikan yang tercatat. Barangsiapa hadir di majelis ini semoga Allah menambah ilmunya, dan barangsiapa belum sempat hadir, semoga diberi kesempatan pada kajian-kajian berikutnya.
Kajian kitab Riyadhus Sholihin di Musholla Al Karim terbuka untuk siapa pun yang ingin ikut duduk dan belajar bersama. Jazakumullahu khairan.
Mari turut memakmurkan musholla — infaq, sedekah, dan wakaf Anda sangat berarti.
Salurkan Infaq